Sejumput
Aroma rumah sakit hal yang bukannya tidak
kusukai namun tidak pernah menjadi apa yang kusuka. Karena agak memusingkan
saat diterbangkan angin dan terhirup oleh hidung. Rasanya aku tidak bisa
meneguk. Semua orang pasti pernah mengunjungi rumah sakit meskipun hanya
sekali. Entah pergi menjenguk, menemani seseorang untuk berobat atau dia
sendiri yang sakit. Sore itu aku datang di salah satu rumah sakit yang berada
di kota Makassar. Teringat di masa kecil dulu rumah sakit adalah tempat yang
paling sering kudatangi karena aku sering jatuh sakit. Aku mengunjungi seorang
anak yang menderita tumor mulut. Sebenarnya kabar tentang sakitnya anak ini
juga kubaca dari sosial media. Aku tidak begitu mengenalnya. Yang kutahu bahwa
dia dirawat di ICU karena menderita penyakit tumor mulut ganas. Aku tidak tahu
kenapa kakiku ingin melangkah ke sana. Itu hanya kepedulian yang semestinya
dilakukan oleh kita.
Berbagai komunitas ikut membantu
meringankan beban. Mereka menyebarkan informasi tentang penyakit anak ini
melalui akun twitter maupun blog. Terus terang aku prihatin pada keadaannya.
Aku melihat fotonya yang disebar melalui akun twitter. Rasanya aku ingin curhat
habis-habisan dengan sahabatku. Biasanya aku menceritakan apapun pada sahabatku
sampai hal yang sepele. Begitulah sahabat sebagai pendengar yang baik. Aku melihat wajah
teduh di sana. Dia duduk di suatu tempat yang disediakan oleh rumah sakit bagi
keluarga pasien yang dirawat. Beberapa orang juga duduk di bale-bale sambil bercerita. Aku melangkahkan kaki ke tempat itu dan
menyapa mereka. Orang itu adalah ibunda Ovan. Pemilik wajah teduh yang suaranya
lirih kalau berbicara. Dia sedang berbincang-bincang dengan pengunjung Ovan.
Tahukah apa yang ada di benakku. Aku hanya susah mengutarakannya entah karena
mendengar pembicaraan mereka atau sedang prihatin dengan kondisi Ovan. Penyakit
sekarang sudah bermacam-macam mulai dari yang menyerang ujung rambut sampai
kuku kaki. Berbagai macam obat sampai operasi pun dikembangkan dari masa ke
masa. Aku menyebarkan pandangan, kulihat banyak sosok berjas putih berkalung
stetoskop atau mengenggam stetoskop sedang berlalu lalang. Tak lama kemudian,
aku masuk di ruang ICU.
Dia tidur terlentang di atas tempat tidur sambil
mendekap boneka spiderman. Aku mendapatinya sedang diajak cerita oleh
salah-satu pengunjungnya saat memasuki kamarnya. Seorang perempuan duduk di
sisinya sesekali mengusap rambutnya. Dia banyak bicara saat ditanya dan banyak
bertanya menghentikan kesunyian. Aku senang memperhatikannya. Saat sakit tapi
masih bersemangat. Perempuan di sampingnya dengan sabar menemaninya. Aku juga
mengajaknya bercerita. Dia haus dan mau minum susu. Perempuan itu menuturkan
kalau pasien menggemaskan ini suka minum susu. Susu coklat dalam kemasan. Kalau
capek diajak bicara oleh pengunjungnya dia akan memberi isyarat ingin minum.
Aku memperhatikan dari tadi dan tersenyum simpul. Di dalam hati aku merasa
senang ke sini dan tenang melihat pasien. Aku menyukai tingkahnya sepertinya
dia sudah mulai membaik. Pengunjungnya memberi air putih yang disedotkan ke
mulutnya dengan pipet. Tapi dia menolak memalingkan wajahnya. Perempuan imut
itu langsung tahu kalau dia mau minum susu.
“Hey, mau minum susu dek?”ucapnya hati-hati sambil
menyisihkan helaian rambut Ovan
“Kak, adik Ovan suka minum susu?”tanyaku
“Iya dia sangat suka.”
“Och.”
“Bagaimana keadaannya?”tanyaku lagi
Pengunjung itu menjelaskan keadaannya padaku. Aku hanya mengangguk
sesekali. Sepertinya pengunjung ini salah seorang simpatisan yang mendengar
kabar sakitnya Ovan. Ya aku akui kondisi anak itu memprihatinkan. Aku merasa
sedih membaca kabar tentangnya dan memperhatikan foto-fotonya. Makanya aku
datang menjenguknya. Selain itu, aku lama tidak menginjak rumah sakit. Biasanya
kalau ke rumah sakit ada hal yang bisa kita temukan sekalipun bukan yang
namanya hura-hura.Orang itu menangis.
Sejujurnya aku semakin sedih melihat peristiwa ini. Merasakannya, menyaksikan langsung
dan ikut berbaur bersama. Hanya aku tidak bisa menangis kejer. Aku
mengusap-usap kaki Ovan meskipun aku tidak suka memegang orang sakit. Doa
kupanjatkan dalam lirih sambil memandangnya lekat. Terkadang keadaan seperti
ini adalah waktunya orang bersedih, menitikkan air mata, menyebut doa dan
menangis. Tidak akan sama kalau aku tadi pergi ke mall atau pasar sentral.
Mungkin itu bedanya kalau kita berkunjung ke tempat-tempat yang tertumpahkan
kesedihan di situ. Suasananya menjadi berubah dan membuat kita ikut larut di
dalamnya. Ya ini hanya kepedulian yang seharusnya dilakukan oleh kita. Kita
sebagai manusia.
Setelah menjenguknya,
di luar ruang ICU aku melihat di tempat keluarga pasien mamanya Ovan masih ada
di sana. Dia masih berbincang-bincang dengan beberapa orang yang tadi kulihat
sebelum masuk ke ruang ICU. Aku berpikir mungkin mereka sama halnya pengunjung
perempuan tadi. Memang ada berbagai komunitas dan para simpatisan yang ikut
membantu pengobatan adik yang menggugah hati ini. Penyakitnya cukup serius dan
dia masih kecil sehingga banyak orang yang ikut tergerak mengulurkan tangan.
Termasuk aku yang datang melihat kondisinya langsung di rumah sakit. Aku suka
terhubung dengan jejaring sosial. Fb-an, twitter-an, buka google, you tube atau
apa yang bisa dilakukan di kotak kecil jendela dunia tersebut. Saat membuka
akun twitter aku melihat suatu postingan lalu kubaca. Aku tahu kabarnya lewat
situ.
Waktu pertama kali aku menjenguk masih ditemani oleh
sepupuku. Namun kedua kalinya aku datang sendiri. Aku ingin mengetahui
perkembangan kondisinya. Sesampainya di sana, kami sempat berbicara di tempat
yang disediakan untuk keluarga pasien. Aku, ibunda Ovan, bapak Ovan dan
beberapa pengunjung. Kami membicarakan perkembangan kesehatan anak itu. Kalau
kudengar-dengar sudah ada perubahan dari terakhir kali aku ke sini. Aku merasa
senang sore itu. Sama seperti pertama
aku datang menjenguk. Mendengar keadaan pasien yang mengalami perubahan apalagi
perubahannya baik rasanya menyenangkan. Meskipun sedikit demi sedikit, tidak
sekaligus.
Tak lama kemudian,
waktu berlalu. Hari berganti hari setelah peristiwa itu. Aku mendengar kabar
kalau Ovan meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Padahal baru
kemarin aku datang menjenguk membawakannya susu coklat. Dia memiliki persediaan
susu yang banyak yang juga dibawakan oleh pengunjung tersayangnya. Rasanya baru
kemarin aku shalat di mesjid dengan ibundanya. Bercengkrama dengan keluarganya
dan simpatisan yang lain. Kami masih bisa tertawa lega kala itu. Berkata
jangan-jangan sembari tersenyum penuh harap. Padahal baru kemarin aku merasa
senang seandainya bersama mereka. Beginilah selalu karena Tuhan memiliki
rencana untuk kita sebagai pemeran utama setiap diri.