Selasa, 06 Oktober 2015

Paa



                Seperti judul sebuah film. Hmm… Aku pernah menonton film itu. Tentang seorang anak yang pertumbuhannya sangat cepat sehingga saat berumur 7 tahun dia sudah tua. Film itu termasuk cerita mengharukan dari sekian banyak film haru biru Hollywood. Bicara hobi nih aku suka yang namanya menonton. Sebenarnya ngisi-ngisi waktu luang yang kelewatan waktu hehehe. Jadi film ini seru karena banyak hal yang bisa kita petik dari kedewasaan seorang anak berumur 7 tahun.  Ibunya seorang dokter jebolan luar negeri kalau tak salah nih dari Inggris yang sangat sangat mengasihinya. Kalau di dunia nyata ya seorang ibu pasti menerima apapun keadaan anaknya. Secara dalam kandungan 9 bulan 10 hari, dilahirkan, dibesarkan sampai menjadi seseorang yang seperti sekarang. Semua itu jasa dan kasih sayang ibu kepada anak-anaknya. Mungkin di perputaran poros bumi ini ada keadaan yang tak sama. Kehidupan yang terus berlanjut. Get well soon.
                Aku tahu kalau dunia itu ibarat pohon yang bersemut. Pohon yang terus tunbuh dan berkembang dari tahun ke tahun sampai mencapai waktunya lapuk. Kemudian menyatu dengan tanah. Kita adalah semut yang memenuhi pohon. Banyak sekali semut di pohon. Ada puluhan, ribuan sampai jutaan semut yang berkeliaran saling menyapa saat berjumpa. Bahasa mengucapkan salam para semut. Perhatikan semut setiap bertemu maka kita akan menyaksikan kalau mereka saling menyapa. Itulah semut yang sangat kecil di atas pohon yang tak pernah berpindah tempat. Kita saja yang terkadang tak menyadarinya. Tenggelam dalam dunia yang melihat kita dari atas. Mungkin suatu hari akan berubah menjadi indah. Karena betapapun itu hidup dan kehidupan akan terus melaju ke depan.
                Ada hal unik dari orang-orang yang berlainan dari diri kita. Tuhan menciptakan kita untuk saling melengkapi satu sama lain. Adam diciptakan pertama kali oleh Tuhan. Lalu dia merasa kesepian di dalam surga yang penuh kenikmatan. Sungai-sungai mengalir di bawahnya. Banyak makanan dan buah-buahan. Surga itu tempat kembali yang paling menyenangkan. Tuhan menciptakan Hawa untuk menemani hidup Adam. Saat diturunkan ke bumi Adam pun bersama Hawa. Sketsa Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan di atas bumi ini. Contohnya Adam dan Hawa, Khadijah dan Rasulullah, Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az Zahra serta jutaan pasangan pelengkap bumi. Adapun kekasih Tuhan yang lain dilimpahkan anugerah. Tale as old as time true as it can be, beauty and the beast. Dunia tempat menggali lumbung garam di belantara samudera untuk dibekali saat mati ^^

Kamis, 27 Agustus 2015

Har, sahabatku


               Ok guns sekarang kita bercerita. Satu kata sahabat. Aku pikir kita semua sudah tahu seperti apa itu sahabat. Persahabatan hal yang lumrah di mata telinga kita. Karena mungkin orang yang kita beritahukan memiliki para sahabat. Here, we go. Dia itu aneh seringkali berkelana sendiri. Padahal banyak teman di dekatnya. Aku hanya memperhatikan saat kami konsentrasi belajar di kelas. Semua mata tertuju ke arah guru bernada suara bass yang dikenal killer. Alih-alih aku meliriknya yang sedang memutar-mutar penanya di atas kertas menulis materi kuliah. Dia orang yang tenang. Kontras dengan orang di sebelahnya yang agak heboh dan suka bicara. Sesekali temannya itu menengok padanya dan bertanya sesuatu. Sambungan catatan, pinjam tip x atau bercerita. Dia tak banyak bicara kalau aku bertanya padanya jawabannya selalu singkat dan tepat. Padahal aku tipe cerewet. Teman di sebelahnya itu termasuk yang suka ngerumpi bersamaku. Tapi dia pun tidak pernah  menceritakannya atau tidak terlalu membahasnya kalau kami heboh. Secara orangnya cakep sih. Makanya kaum hawa klepek-klepek. Tapi lebih dari itu kami semua berteman dan dia sangat biasa. Itulah daya tariknya. Cause he ordinary boy. Kalau dia, aku selalu menanggapinya suka saja. Asyik.
                Mengenai hubungan percintaan yang populer berpacaran baru disuitin. Aku kira orang berpacaran itu populer. Seperti ada tuan pada hati kita. Diri kita sudah ada pemiliknya tanda kutip. Mungkin begitulah gaya orang pacaran. I always feel it different if him. Aku tahu dia memilki seribu senyuman yang disimpannya di tempat rahasia. Ada juga yang tidak menyukainya sebatas sapaan. Melihatnya duduk saling bersendau gurau disuitin teman-teman yang lain. Di luar orang-orang itu tidak pernah saling menyinggung yang selepas terjadi tadi. Mereka malah menepuk pundak dan bercerita yang lain. Biasa gaya ambillah. Ambillah, ambillah! Khas satu kelas. Aku kadang ketawa gara-gara istilah itu terkenal dari kelas kami.
                So, you what hehehe. Aku selalu ingin berteman. Har kita bersahabat. Rasanya beda kalau dia di kampus, di kelas, rumah atau berada di zona kuning. Memang. Tak ada salahnya sebagian orang memandang sinis. Sekalipun kita sama saja. Dia selalu bersikap seadanya, jaim kata gaulnya. Padahal banyak teman di sekelilingnya yang sama setnya dengan dia. Terkecuali yang heboh. Aku tak bisa mengelak. Butuh banyak energi untuk meredam emosi mereka yang tidak betul-betul berdiri bersama. Makanya aku suka mencolek dan ketawa-ketiwi di belakang. Tentunya dengan teman-teman yang akrab denganku. Seru saja. Dia pun orang begitu yang senang berkumpul dan jalan bersama. Hanya, hatinya yang tak sama dengan semuanya. Aku kira dia memiliki rahasia yang timbul tenggelam setiap kami sekelas menjadi saksi. Masalahnya orang-orang tahu dan dia tidak bisa berbohong tentang itu. Jadi, jawabannya selalu bahagia.
                Pernah aku mengajaknya berbincang suatu waktu. Dia suka mengikuti kegemaran kita. Yang kita senangi supaya katanya klop. Kalau aku baik-baik saja hehehe. Semua akan indah pada waktunya. Kalau bukan hari ini, besok atau lusa. Aku tahu sekarang maupun nanti akan berubah kecuali keinginan kita dari zaman nenek moyang. Dia juga menyadarinya saat apapun bisa berubah dan kemungkinan diubah. Ini hanya tentang timing yang belum tepat. Tentang aku, kamu, dia dan mereka kalau lirik sebuah lagu. Keep strong, guns.




                                                                                                                                     

Sabtu, 15 Agustus 2015

Ongah, janganlah kau menunggu saya!

                Pernah nggak mengalami kesemutan, agak gerah dan kegelisahan hanya karena satu hal yaitu menunggu. Menunggu terkadang menjadi hal yang paling tidak disukai oleh kebanyakan orang. Kesannya mungkin buang-buang waktu mending langsung saja let’s go. “Arrggghh aku paling tak suka nunggu.” Responnya sebagian teman biasanya begitu. Ada sih nyamannya kalau kita baik-baik saja menunggu. Waiting to someone, sample. Atau sekedar menunggu teman untuk mengunjungi suatu tempat. Adakalanya kita menunggu, wajar. Pengalamanku selalu ditunggu peace;) Kebiasaan mungkin sedari dulu eh gaya. Ya, aku suka menunggu tapi dari semilyaran orang di bumi permai ini aku sering ditunggu (lebay). Menunggu itu sebenarnya membosankan tapi petik baiknya saja kalau kita berada dalam penantian. Anggap saja menggenapkan waktu diselingi memperbaiki kehidupan.

                Kalau kita menunggu berarti ada secercah harapan pada orang tersebut. Jadi orang menunggu berharap dan memiliki keinginan. Tapi terkadang juga menunggu disebabkan kita merasa sekawan dengan orang yang ditunggu. Makanya meskipun tidak suka tetap kita lakukan. Tak apa-apa  menunggu toh yang tahu keinginan kita adalah kita sendiri. Kalau apa yang kita mau ada sekarang jangan menantinya di masa depan. Kalau ada di masa lalu cari yang lebih baik di masa kini. Dunia ibarat sebuah toko yang menyediakan kebutuhan hidup kita. Dalam bukunya Anis Malik, Berdoa Ada Seninya, kehidupan seperti kita melewati sebuah gerbong dan sampai ke gerbong selanjutnya. Gerbong terakhir saat kita masuk di liang lahat. Semuanya berproses sampai menemukan ujungnya. Kalau dikatakan puas, manusia tidak ada puasnya. Kita hanya memiliki jeda yang disebut lelah. Kalau sampai di titik itu kita berhenti mungkin sudah waktunya. 

                Ini untuk konsumsi pribadi sebenarnya aku tidak menyenangi menunggu. Aku hanya suka. Akibatnya mungkin karena aku paling sering ditunggu hehehe. Pengalamannya begini, ada seorang teman yang akrab denganku saat masih kuliah. Kebiasaannya menunggu gara-gara aku tidak bisa cepat prepare. Makanya dia jatuhnya marah kalau aku kelamaan. Sedikit bercanda juga ah biasa. “Aduh kamu tuh telat terus. Paling dekat kosnya di kampus tapi paling terlambat datang.” Aku paling ingat komentar jadulnya yang buat terkenang. Kalau mau diingat orang-orang aku memang terkenal terlambat. Sedikit bercanda kalau mengingat hal itu. Kebiasaan buruk seharusnya diperbaiki bukan dirawat sih. Menunggu bagiku baik-baik saja selama kita bisa menyenanginya. Kalau kita merasa senang dan tidak terbebani aku rasa apapun akan terasa mudah. Sekalipun itu bukan menunggu. Tak perlu melirik orang yang mengernyit kalau menunggu. Kita jalan saja selama hati merasa nyaman. Bukankah hati kita yang menentukan jalan yang ingin kita tempuh?

                Ada juga orang yang ingin kecepatan kalau memiliki suatu keinginan. Sebenarnya menunggu di sini bukan lagi hal yang diluangkan. Seperti waktu yang terus berubah detiknya tek tek tek. Kita tidak bisa menghalaunya sehingga tidak ada kata menunggu. Apa sih yang tidak bisa ditunggui. Keinginan kita. Aku senang saja di mana-mana. Yeah, everything >.^ anywhere home us. Kalau orang sudah merasa miliknya tak ada lagi yang harus dia usahakan. Selebihnya, kita aruskan di sungai yang bermuara ke laut aduh bahasamu hihihi. Benar kan, jodoh itu aturan Tuhan yang dinahkodai oleh manusia. Seperti sebuah kalimat sederhana, kita yang berdoa Tuhan yang menentukan. Begitu pun dengan menunggu.

Jumat, 31 Juli 2015

Berlalu



                Sejauh perjalanan hidup seseorang pasti telah melalui banyak kisah dan cerita. Ada yang melumar jadi kenangan, dibawa sampai kini dan sementara kita jalani. Pada akhirnya semua akan menuju akhirnya jua. Semua akan indah pada waktunya. Meskipun untuk menjalaninya itu sulit. Ada sebuah kenangan yang susah untuk kita hapuskan begitu saja. Sesuatu yang membawa pengaruh yang besar dan mendominasi hidup kita. Hal yang demikian bukanlah angin yang  bertiup. Seperti saat angin menerpa wajah kita dan berhembus ke segala arah. Terkadang kita menengadahkan tangan ke angkasa, mencoba menggenggam-genggam angin dan merasakannya di telapak tangan kita. Setelah itu, sengaja menaruhnya di tempat yang kita sendiri tahu. Bisakah angin. Ya, itu hanya perumpamaan. Siapapun tak pernah belajar untuk merelakan itu hanya yang seharusnya. Aku hanya merelakan saja. Kata yang ganjil. Selalu begitu, di mana-mana dan pada setiap hati. Kenangan memiliki makna sesuai dengan kadar rasa kita menanggapinya. Makanya kalau ada yang kegalauan mungkin kenangannya yang enggan berlalu. Berlalulah seperti lagu yang mengalun perlahan di benak kita.
Mungkin seharusnya seperti itulah kita mengartikan kenangan. Kalau dipikir-pikir semua orang memiliki kenangan masing-masing. Kalau aku dalam keseharian menyenangi orang yang cute alias calm ulangan terbaik emosi. Ya, mending kalem daripada bertingkah. Tapi lebih bagus bertingkah dibandingkan berdiam diri. Semua itu hal yang membuat kita berbaur dalam euforia di balik kenangan. Kenangan tak selamanya kelam. Yang nuansanya sedih, mengharukan, bikin menangis atau galau. Rasa-rasanya semua orang pernah merasakan juga. Kenangan itu ada yang indah, membahagiakan, bikin ketawa dan mengasyikkan. Kalau diingat kita biasa tertawa sendiri lalu merenungkannya. Kemudian kita merindukan saat-saat itu. Kebanyakan orang seperti itu. Mereka banyak meluapkannya di jejaring sosial yang tersedia di internet seperti facebook, twitter, path ataupun bbm. Aku sendiri sering membaca kalau melotot di depan layar notebook. Kita semua sama di dalam perbedaan. Geser ke atas ke bawah yang dibicarakan beda tipis atau hampir sama. Bedanya hanya permasalahannya sehingga kata-kata mereka tak sama.
Kalau kita membicarakan orang yang dicerita berlalu. Ini yang sekarang kita jalani. Aku merasa berlalu masih kata yang susah. Kalau dicari di KKBI maksud dan arti; berlalu. Di dalam kehidupan nyata pengertiannya akan berlainan. Semua orang memiliki pengertian untuk menanggapi yang ada di sekitarnya. Satu orang dengan orang lain berbeda. Kita tak mungkin mencocokkan pendapat kita dengan pendapat orang lain. Ada kalanya kita perlu menyatukan sebuah pengertian. Oleh karena itu, selain kenangan namun yang bergerak di sekeliling kita sehari-hari di situ kita… berlalu. Berlalu itu bukan tidak berbaur.
Ketemu teman lama yang sama-sama sekolah dulu menyimpan kenangan. Saat kita saling bercerita, menanyakan kondisi dan mengingatkan peristiwa. Membuka kenangan yang paling berkesan bagi hidup kita seperti air di kala dahaga. Aku membuka-buka album foto melihat cerita yang tersimpan di setiap cipratannya. Atau membongkar file yang sudah disave sejak lama. Tentang persahabatan, teman sejawat, kekeluargaan atau selingan kehidupan. Semua itu membuat hati kita senang sedikit haru. Namun bila kenangan itu adalah sesuatu yang menyesakkan tak perlu terus diratapi. Ada kata move on. Kita hanya perlu menghadapinya dengan kerelaan. Just face it, just face it hihihi tiinnngggg. Memang betul, kita akan selalu melangkah ke depan.

Selasa, 28 Juli 2015

Ongah, kau pernah ke Inggris

            Pernah dengar strata gak. Dalam suatu kehidupan bermasyarakat ada tingkatan-tingkatan yang membedakan kita. Tidaklah sama antara seorang pejabat dan seorang petani. Biasanya juga merambat tak ubahnya pohon menjalar di hamparan tanah sampai anak, cucu dan cicit-cicitnya. Selalu begitu dari masa ke masa dan satu generasi ke generasi berikutnya mempertahankan paham masing-masing. Tak ada yang ingin goyah dari tempatnya. Kita hanya mengabaikan yang menurut orang lain betul dan menurut kita salah. Itu selalu kuat meskipun menerima begitu banyak bantahan yang bernada tanggapan. Setiap orang memiliki pahamnya tersendiri yang tak mungkin sama persis dengan yang lainnya. Mereka hanya mencoba berbaur menyatukannya karena menganggap berada di satu tempat. Kita memiliki tujuan yang berbeda di tempat yang sama. Anggap saja itu bumi di mana kaki berpijak. Maka perbedaan tidak ada lagi. Kita semua sama. Sama-sama ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa. Namun saat kita berdiri dan melihat orang lain duduk itu tidak selalu sama. Tahukah Inggris. Aku tidak tahu (dalam hati) hihihi. Aku bahkan tidak pernah ke sana, negeri para raja. Negara yang memiliki penduduk yang katanya berbudi luhur. Ya, orang Inggris adalah jiwa turun temurungnya tangan putri Lady Diana. Di sana juga ada jembatan yang terkenal di dunia.

                Aku sedikit ketawa berbicara tentang jembatan. Di dekat rumahku ada jembatan yang merupakan mulut menuju ke kota Benteng. Kalau sudah melewati jembatan itu maka kita berada di kota Benteng, ibukota Kepulauan Selayar. Suatu kabupaten yang terletak di ujung Sulawesi Selatan. Waktu masih kuliah dulu banyak teman-teman dari daerah lain yang bertanya-tanya tentang pulau Selayar. Aku dibuat kikuk menjawabnya. Selayar itu masih termasuk Sul-Sel terletak di ujung Sulawesi paling selatan tapi tidak menyatu dengan pulau Sulawesi sendiri seperti daerah Bulukumba, Bantaeng, Jeneponto dan lainnya. Terus ditanya lagi. Selayar itu pulau yang berdiri sendiri dan tidak menyatu dengan pulau Sulawesi. Kujawab lagi. Namanya saja PulauSelayar di sana ada atol yang merupakan terumbu karang terbesar ketiga di dunia. Tanya jawab pun terjadi. Di sana ada kehidupan karena bisanya ada orang yang tinggal di pulau kecil dan terpisah dengan pulau ibukota. Aku pun menjawab. Aku anak pulau hihihi. Aku geli kalau ada yang menanyakan Selayar masih termasuk Indonesia. Negeri ibu pertiwi.

                Indonesia adalah negara yang terus berkembang di jalur khatulistiwa. Makanya orang Indonesia menunggu musim durian, mengalami kekeringan sumur atau sawah dan menarik ulur payungnya di musim penghujan. Di negeri ini juga banyak tempat wisata dan cagar budaya yang telah dikenal sejak dahulu kala. Aku bahkan tidak mengunjungi berbagai tempat untuk menyaksikan kekayaan alam. Indonesia memiliki objek wisata, budidaya alam dan pusat kebudayaan daripada negara-negara lain di penjuru dunia. Namun bagaimanapun itu kita selalu condong pada negeri luar yang kenyataannya sudah sangat modern. Buktinya sampai kini, orang Indonesia masih menggeluti ketradisionalan. Tradisional seperti warisan nenek moyang yang kesannya asri dan langsung dari alam. Tak pernah terpisah dengan masyarakat apalagi mereka yang hidupnya di daerah Jawa. Indonesia masih wong deso hihihi. Aku suka yang berasal dari alam seperti hati orang-orang Indonesia. Tapi di negara barat, mereka mengenal metropolitan. Seperti Inggris.

                Nah, kembali pada jembatan. Jembatan mulu nih hihihi. Lanjut saja pada alurnya. Aku hanya tahu jembatan London. Tower bridge, jembatan menara. Disebut jembatan menara karena jembatan itu ditopang oleh dua buah menara di sisi kanan dan kirinya. Jembatan menara ini atau tower bridge adalah icon negara Inggris. Makanya hanya sebatas jembatan yang aku torehkan. Di sana pasti ada tempat-tempat lain yang menjadi pusat peradaban. Bukankah itu yang membuat para wisatawan meluncur ke kota berbahasa Internasional itu di waktu liburan. Mereka memiliki berbagai tempat yang merupakan pusat peradaban baik di negara itu sendiri atau dunia. Karena peradaban. Tapi pasti ada alasan lain; pergi liburan, travelling dan shopping misalnya. Memang selalu begitu tujuannya dari sedikit. Untuk happy, mencari udara luar negeri dan melepas penat. Pokoknya bersenang-senang. Aku pun demikian. London, negeri para raja katanya. Indonesia negeriku, gema ri palo ji nawi.

Selasa, 21 Juli 2015

Dia Zhe


                Aku tidak tahu sedang berada di ruang mana. Mungkin dalam dimensi dan waktu yang tidak pernah kumengerti, entahlah. Ya aku tahu kita sekarang ada di bumi. Planet ketiga dalam sistem tata surya. Hanya ini berbeda yang kurasakan. Ada sesuatu yang lain dari biasanya. Dari hari-hari yang lalu, sebulan, semusim kalau judul sebuah lagu. Tahun-tahun terakhir memang ada yang berubah. Aku kira selalu demikian saat kita mengalami proses kehidupan di bawah payung langit Tuhan yang sama. Aku merasa aneh, aneh sendiri ah tidak. Mungkin otakku hanya sedikit load. Namun aku bisa memaknainya seperti namamu. Zhe. Bukan baru hari ini kemarin juga aku mengalaminya. Seperti lagu yang sering kita nyanyikan bersama (dalam khayalan) hihihi. Mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Terus, hal yang tak mudah merubah jadi indah. Mungkin itulah yang terjadi sekarang di hadapanku dan berbaur denganku.

                Bumi semakin tua. Seperti proses metamorphosis kupu-kupu begitulah siklus hidup yang terus bergulir. Ujungnya memang menutup mata. Tapi dalam prosesnya kita mengalami banyak hal yang membentuk  diri . Terkadang aku merasa kerdil. Betul. Saat terjatuh, bersedih, tersisih, terbuang dan menangis. Hati menjadi mengerucut seperti fitrahnya seorang manusia. Aku tahu kita memiliki keterbatasan dan memiliki yang tidak terbatas. Tapi daripada mengakui semua itu lebih baik membesarkan diri sendiri. Aku rasa lebih dewasa membuat hati kita mengerti bahwa tak selamanya kita senang. Bumi semakin tua dan waktu terus berdenting. Kalau aku tidak tahu hari ini bisa saja besok aku tahu tapi semua itu relatif. Kata relatif yang harus kita cernah sebaik mungkin. Kata itu susah. Serumit mengetahui esok hari akan seperti apa. Tuhan maha mengetahui sedangkan manusia bahkan tidak tahu alat pencernaannya sedang bekerja. Tetap kalem seperti apa adanya dirimu >.^

                Dia Zhe moodbooster hihihi. Everybody knew to feel glad. Bersama teman, misalnya. Atau handout bisa juga chattingan di rumah. Yang penting kita senang. Itulah moodboster yang akan selalu direngkuh saat-saatnya. Aku selalu terkesan dengan mereka yang penggila sosmed. Berbagai akun, blogger atau alamat link lainnya pasti ada cirinya masing-masing. Kalau kamu bertanya kenapa maka jawabannya karena itu moodbosternya. Makanya dia menjadi lain dari siapa-siapa. Moodbooster itu layaknya jiwa yang menyemangati kamu. Tapi adakalanya juga kita menikmatinya sendiri sementara di sekitaran kita hidup seperti biasa. Aku merasa mati. Anehnya kita berada di ruang yang sama meskipun beragam. Setiap orang akan mempertahankan yang dianggapnya betul. Aku juga memiliki opini. Namun mempertemukan pendapat kita dengan pendapat orang lain seperti sebutir pasir dalam sewadah air. Terlihat begitu kecil pada diri kita yang megah. Kebalikannya kita terlalu besar bila seukuran pasir itu. So, why look kan lucu.

                Aku tahu ada beberapa hal yang tidak bisa diubah. Pada orang lain, yang terjadi di sekeliling kita baik dalam diri sendiri. Tapi betapapun itu kita selalu tahu cara berpasrah. Akan selalu ada jalan seperti celah di tembok. Dari celah itulah cahaya matahari dari luar dapat tembus masuk ke dalam. Walaupun tidak semua hal akan terasa mudah. Memang selalu ada rintangan dan halangan yang menerpa jalan kita. Moodbooster berfungsi di sini jrengg jrengg. Memberi asupan kebahagiaan sehingga kita bisa merasa sedikit lega. Terkadang moodbooster itu tidak harus berwujud nyata. Bisa dilihat, bisa diraba dan dirasa hihihi. Tapi aku yakin kalau senyum tidak bisa dikatupkan. Moodbooster itu penyemangat yang memberi arti saat orang lain tidak memahami. M O O D B O O S T E R. Sahabat, teman, keluarga, hobi ataupun kesenangan.  

                Moodbooster itu paling manjur kalau kita nih butuh-butuhnya penyemangat. Seperti suatu dorongan untuk berbuat sesuatu. Saat kita memulainya, melakukannya sampai mencapai akhir. Ada dukungan moril khusus karena moodbooster. Yang penting kita tidak sibuk sendiri tanda kutip hihihi. Bagi yang memiliki semacam moodbooster hingga artis idolanya mending pintar-pintar menempatkannya. Biasanya terlalu condong pada moodbooster membuat kita lupa dengan sekeliling. Jatuhnya itu keasyikan dengan dunianya masing-masing. Moodbooster itu melen gkapi apa yang ingin kita do that. Oleh karena itu, jangan heran bila melihat ia yang senang melakukan suatu hal. Begitulah moodbooster merengkuh kita.

Selasa, 14 Juli 2015




Sejumput
 

Aroma rumah sakit hal yang bukannya tidak kusukai namun tidak pernah menjadi apa yang kusuka. Karena agak memusingkan saat diterbangkan angin dan terhirup oleh hidung. Rasanya aku tidak bisa meneguk. Semua orang pasti pernah mengunjungi rumah sakit meskipun hanya sekali. Entah pergi menjenguk, menemani seseorang untuk berobat atau dia sendiri yang sakit. Sore itu aku datang di salah satu rumah sakit yang berada di kota Makassar. Teringat di masa kecil dulu rumah sakit adalah tempat yang paling sering kudatangi karena aku sering jatuh sakit. Aku mengunjungi seorang anak yang menderita tumor mulut. Sebenarnya kabar tentang sakitnya anak ini juga kubaca dari sosial media. Aku tidak begitu mengenalnya. Yang kutahu bahwa dia dirawat di ICU karena menderita penyakit tumor mulut ganas. Aku tidak tahu kenapa kakiku ingin melangkah ke sana. Itu hanya kepedulian yang semestinya dilakukan oleh kita.

Berbagai komunitas ikut membantu meringankan beban. Mereka menyebarkan informasi tentang penyakit anak ini melalui akun twitter maupun blog. Terus terang aku prihatin pada keadaannya. Aku melihat fotonya yang disebar melalui akun twitter. Rasanya aku ingin curhat habis-habisan dengan sahabatku. Biasanya aku menceritakan apapun pada sahabatku sampai hal yang sepele. Begitulah sahabat sebagai pendengar yang baik. Aku melihat wajah teduh di sana. Dia duduk di suatu tempat yang disediakan oleh rumah sakit bagi keluarga pasien yang dirawat. Beberapa orang juga duduk di bale-bale sambil bercerita. Aku melangkahkan kaki ke tempat itu dan menyapa mereka. Orang itu adalah ibunda Ovan. Pemilik wajah teduh yang suaranya lirih kalau berbicara. Dia sedang berbincang-bincang dengan pengunjung Ovan. Tahukah apa yang ada di benakku. Aku hanya susah mengutarakannya entah karena mendengar pembicaraan mereka atau sedang prihatin dengan kondisi Ovan. Penyakit sekarang sudah bermacam-macam mulai dari yang menyerang ujung rambut sampai kuku kaki. Berbagai macam obat sampai operasi pun dikembangkan dari masa ke masa. Aku menyebarkan pandangan, kulihat banyak sosok berjas putih berkalung stetoskop atau mengenggam stetoskop sedang berlalu lalang. Tak lama kemudian, aku masuk di ruang ICU.

Dia tidur terlentang di atas tempat tidur sambil mendekap boneka spiderman. Aku mendapatinya sedang diajak cerita oleh salah-satu pengunjungnya saat memasuki kamarnya. Seorang perempuan duduk di sisinya sesekali mengusap rambutnya. Dia banyak bicara saat ditanya dan banyak bertanya menghentikan kesunyian. Aku senang memperhatikannya. Saat sakit tapi masih bersemangat. Perempuan di sampingnya dengan sabar menemaninya. Aku juga mengajaknya bercerita. Dia haus dan mau minum susu. Perempuan itu menuturkan kalau pasien menggemaskan ini suka minum susu. Susu coklat dalam kemasan. Kalau capek diajak bicara oleh pengunjungnya dia akan memberi isyarat ingin minum. Aku memperhatikan dari tadi dan tersenyum simpul. Di dalam hati aku merasa senang ke sini dan tenang melihat pasien. Aku menyukai tingkahnya sepertinya dia sudah mulai membaik. Pengunjungnya memberi air putih yang disedotkan ke mulutnya dengan pipet. Tapi dia menolak memalingkan wajahnya. Perempuan imut itu langsung tahu kalau dia mau minum susu.
“Hey, mau minum susu dek?”ucapnya hati-hati sambil menyisihkan helaian rambut Ovan
“Kak, adik Ovan suka minum susu?”tanyaku
“Iya dia sangat suka.”
“Och.”
“Bagaimana keadaannya?”tanyaku lagi
Pengunjung itu menjelaskan keadaannya padaku. Aku hanya mengangguk sesekali. Sepertinya pengunjung ini salah seorang simpatisan yang mendengar kabar sakitnya Ovan. Ya aku akui kondisi anak itu memprihatinkan. Aku merasa sedih membaca kabar tentangnya dan memperhatikan foto-fotonya. Makanya aku datang menjenguknya. Selain itu, aku lama tidak menginjak rumah sakit. Biasanya kalau ke rumah sakit ada hal yang bisa kita temukan sekalipun bukan yang namanya hura-hura.Orang itu menangis. Sejujurnya aku semakin sedih melihat peristiwa ini. Merasakannya, menyaksikan langsung dan ikut berbaur bersama. Hanya aku tidak bisa menangis kejer. Aku mengusap-usap kaki Ovan meskipun aku tidak suka memegang orang sakit. Doa kupanjatkan dalam lirih sambil memandangnya lekat. Terkadang keadaan seperti ini adalah waktunya orang bersedih, menitikkan air mata, menyebut doa dan menangis. Tidak akan sama kalau aku tadi pergi ke mall atau pasar sentral. Mungkin itu bedanya kalau kita berkunjung ke tempat-tempat yang tertumpahkan kesedihan di situ. Suasananya menjadi berubah dan membuat kita ikut larut di dalamnya. Ya ini hanya kepedulian yang seharusnya dilakukan oleh kita. Kita sebagai manusia.

            Setelah menjenguknya, di luar ruang ICU aku melihat di tempat keluarga pasien mamanya Ovan masih ada di sana. Dia masih berbincang-bincang dengan beberapa orang yang tadi kulihat sebelum masuk ke ruang ICU. Aku berpikir mungkin mereka sama halnya pengunjung perempuan tadi. Memang ada berbagai komunitas dan para simpatisan yang ikut membantu pengobatan adik yang menggugah hati ini. Penyakitnya cukup serius dan dia masih kecil sehingga banyak orang yang ikut tergerak mengulurkan tangan. Termasuk aku yang datang melihat kondisinya langsung di rumah sakit. Aku suka terhubung dengan jejaring sosial. Fb-an, twitter-an, buka google, you tube atau apa yang bisa dilakukan di kotak kecil jendela dunia tersebut. Saat membuka akun twitter aku melihat suatu postingan lalu kubaca. Aku tahu kabarnya lewat situ.

Waktu pertama kali aku menjenguk masih ditemani oleh sepupuku. Namun kedua kalinya aku datang sendiri. Aku ingin mengetahui perkembangan kondisinya. Sesampainya di sana, kami sempat berbicara di tempat yang disediakan untuk keluarga pasien. Aku, ibunda Ovan, bapak Ovan dan beberapa pengunjung. Kami membicarakan perkembangan kesehatan anak itu. Kalau kudengar-dengar sudah ada perubahan dari terakhir kali aku ke sini. Aku merasa senang sore itu. Sama seperti  pertama aku datang menjenguk. Mendengar keadaan pasien yang mengalami perubahan apalagi perubahannya baik rasanya menyenangkan. Meskipun sedikit demi sedikit, tidak sekaligus.

            Tak lama kemudian, waktu berlalu. Hari berganti hari setelah peristiwa itu. Aku mendengar kabar kalau Ovan meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Padahal baru kemarin aku datang menjenguk membawakannya susu coklat. Dia memiliki persediaan susu yang banyak yang juga dibawakan oleh pengunjung tersayangnya. Rasanya baru kemarin aku shalat di mesjid dengan ibundanya. Bercengkrama dengan keluarganya dan simpatisan yang lain. Kami masih bisa tertawa lega kala itu. Berkata jangan-jangan sembari tersenyum penuh harap. Padahal baru kemarin aku merasa senang seandainya bersama mereka. Beginilah selalu karena Tuhan memiliki rencana untuk kita sebagai pemeran utama setiap diri.