
Ok guns sekarang kita bercerita. Satu kata sahabat. Aku pikir kita semua sudah tahu seperti apa itu sahabat. Persahabatan hal yang lumrah di mata telinga kita. Karena mungkin orang yang kita beritahukan memiliki para sahabat. Here, we go. Dia itu aneh seringkali berkelana sendiri. Padahal banyak teman di dekatnya. Aku hanya memperhatikan saat kami konsentrasi belajar di kelas. Semua mata tertuju ke arah guru bernada suara bass yang dikenal killer. Alih-alih aku meliriknya yang sedang memutar-mutar penanya di atas kertas menulis materi kuliah. Dia orang yang tenang. Kontras dengan orang di sebelahnya yang agak heboh dan suka bicara. Sesekali temannya itu menengok padanya dan bertanya sesuatu. Sambungan catatan, pinjam tip x atau bercerita. Dia tak banyak bicara kalau aku bertanya padanya jawabannya selalu singkat dan tepat. Padahal aku tipe cerewet. Teman di sebelahnya itu termasuk yang suka ngerumpi bersamaku. Tapi dia pun tidak pernah menceritakannya atau tidak terlalu membahasnya kalau kami heboh. Secara orangnya cakep sih. Makanya kaum hawa klepek-klepek. Tapi lebih dari itu kami semua berteman dan dia sangat biasa. Itulah daya tariknya. Cause he ordinary boy. Kalau dia, aku selalu menanggapinya suka saja. Asyik.
Mengenai
hubungan percintaan yang populer berpacaran baru disuitin. Aku kira orang
berpacaran itu populer. Seperti ada tuan pada hati kita. Diri kita sudah ada
pemiliknya tanda kutip. Mungkin begitulah gaya orang pacaran. I always feel it different if him. Aku
tahu dia memilki seribu senyuman yang disimpannya di tempat rahasia. Ada juga
yang tidak menyukainya sebatas sapaan. Melihatnya duduk saling bersendau gurau
disuitin teman-teman yang lain. Di luar orang-orang itu tidak pernah saling
menyinggung yang selepas terjadi tadi. Mereka malah menepuk pundak dan
bercerita yang lain. Biasa gaya ambillah. Ambillah, ambillah! Khas satu kelas.
Aku kadang ketawa gara-gara istilah itu terkenal dari kelas kami.
So, you what hehehe. Aku selalu ingin
berteman. Har kita bersahabat. Rasanya beda kalau dia di kampus, di kelas,
rumah atau berada di zona kuning. Memang. Tak ada salahnya sebagian orang
memandang sinis. Sekalipun kita sama saja. Dia selalu bersikap seadanya, jaim
kata gaulnya. Padahal banyak teman di sekelilingnya yang sama setnya dengan
dia. Terkecuali yang heboh. Aku tak bisa mengelak. Butuh banyak energi untuk
meredam emosi mereka yang tidak betul-betul berdiri bersama. Makanya aku suka
mencolek dan ketawa-ketiwi di belakang. Tentunya dengan teman-teman yang akrab
denganku. Seru saja. Dia pun orang begitu yang senang berkumpul dan jalan
bersama. Hanya, hatinya yang tak sama dengan semuanya. Aku kira dia memiliki
rahasia yang timbul tenggelam setiap kami sekelas menjadi saksi. Masalahnya
orang-orang tahu dan dia tidak bisa berbohong tentang itu. Jadi, jawabannya
selalu bahagia.
Pernah
aku mengajaknya berbincang suatu waktu. Dia suka mengikuti kegemaran kita. Yang
kita senangi supaya katanya klop. Kalau aku baik-baik saja hehehe. Semua akan
indah pada waktunya. Kalau bukan hari ini, besok atau lusa. Aku tahu sekarang
maupun nanti akan berubah kecuali keinginan kita dari zaman nenek moyang. Dia
juga menyadarinya saat apapun bisa berubah dan kemungkinan diubah. Ini hanya tentang
timing yang belum tepat. Tentang aku,
kamu, dia dan mereka kalau lirik sebuah lagu. Keep strong, guns.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar