Kalau
kita menunggu berarti ada secercah harapan pada orang tersebut. Jadi orang
menunggu berharap dan memiliki keinginan. Tapi terkadang juga menunggu
disebabkan kita merasa sekawan dengan orang yang ditunggu. Makanya meskipun
tidak suka tetap kita lakukan. Tak apa-apa menunggu toh yang tahu keinginan kita adalah
kita sendiri. Kalau apa yang kita mau ada sekarang jangan menantinya di masa
depan. Kalau ada di masa lalu cari yang lebih baik di masa kini. Dunia ibarat
sebuah toko yang menyediakan kebutuhan hidup kita. Dalam bukunya Anis Malik,
Berdoa Ada Seninya, kehidupan seperti kita melewati sebuah gerbong dan sampai
ke gerbong selanjutnya. Gerbong terakhir saat kita masuk di liang lahat.
Semuanya berproses sampai menemukan ujungnya. Kalau dikatakan puas, manusia
tidak ada puasnya. Kita hanya memiliki jeda yang disebut lelah. Kalau sampai di
titik itu kita berhenti mungkin sudah waktunya.
Ini
untuk konsumsi pribadi sebenarnya aku tidak menyenangi menunggu. Aku hanya
suka. Akibatnya mungkin karena aku paling sering ditunggu hehehe. Pengalamannya
begini, ada seorang teman yang akrab denganku saat masih kuliah. Kebiasaannya
menunggu gara-gara aku tidak bisa cepat prepare. Makanya dia jatuhnya marah
kalau aku kelamaan. Sedikit bercanda juga ah biasa. “Aduh kamu tuh telat terus.
Paling dekat kosnya di kampus tapi paling terlambat datang.” Aku paling ingat
komentar jadulnya yang buat terkenang. Kalau mau diingat orang-orang aku memang
terkenal terlambat. Sedikit bercanda kalau mengingat hal itu. Kebiasaan buruk
seharusnya diperbaiki bukan dirawat sih. Menunggu bagiku baik-baik saja selama
kita bisa menyenanginya. Kalau kita merasa senang dan tidak terbebani aku rasa
apapun akan terasa mudah. Sekalipun itu bukan menunggu. Tak perlu melirik orang
yang mengernyit kalau menunggu. Kita jalan saja selama hati merasa nyaman.
Bukankah hati kita yang menentukan jalan yang ingin kita tempuh?
Ada
juga orang yang ingin kecepatan kalau memiliki suatu keinginan. Sebenarnya
menunggu di sini bukan lagi hal yang diluangkan. Seperti waktu yang terus
berubah detiknya tek tek tek. Kita tidak bisa menghalaunya sehingga tidak ada
kata menunggu. Apa sih yang tidak bisa ditunggui. Keinginan kita. Aku senang
saja di mana-mana. Yeah, everything >.^
anywhere home us. Kalau orang sudah merasa miliknya tak ada lagi yang harus
dia usahakan. Selebihnya, kita aruskan di sungai yang bermuara ke laut aduh
bahasamu hihihi. Benar kan, jodoh itu aturan Tuhan yang dinahkodai oleh
manusia. Seperti sebuah kalimat sederhana, kita yang berdoa Tuhan yang menentukan.
Begitu pun dengan menunggu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar