Kamis, 27 Agustus 2015

Har, sahabatku


               Ok guns sekarang kita bercerita. Satu kata sahabat. Aku pikir kita semua sudah tahu seperti apa itu sahabat. Persahabatan hal yang lumrah di mata telinga kita. Karena mungkin orang yang kita beritahukan memiliki para sahabat. Here, we go. Dia itu aneh seringkali berkelana sendiri. Padahal banyak teman di dekatnya. Aku hanya memperhatikan saat kami konsentrasi belajar di kelas. Semua mata tertuju ke arah guru bernada suara bass yang dikenal killer. Alih-alih aku meliriknya yang sedang memutar-mutar penanya di atas kertas menulis materi kuliah. Dia orang yang tenang. Kontras dengan orang di sebelahnya yang agak heboh dan suka bicara. Sesekali temannya itu menengok padanya dan bertanya sesuatu. Sambungan catatan, pinjam tip x atau bercerita. Dia tak banyak bicara kalau aku bertanya padanya jawabannya selalu singkat dan tepat. Padahal aku tipe cerewet. Teman di sebelahnya itu termasuk yang suka ngerumpi bersamaku. Tapi dia pun tidak pernah  menceritakannya atau tidak terlalu membahasnya kalau kami heboh. Secara orangnya cakep sih. Makanya kaum hawa klepek-klepek. Tapi lebih dari itu kami semua berteman dan dia sangat biasa. Itulah daya tariknya. Cause he ordinary boy. Kalau dia, aku selalu menanggapinya suka saja. Asyik.
                Mengenai hubungan percintaan yang populer berpacaran baru disuitin. Aku kira orang berpacaran itu populer. Seperti ada tuan pada hati kita. Diri kita sudah ada pemiliknya tanda kutip. Mungkin begitulah gaya orang pacaran. I always feel it different if him. Aku tahu dia memilki seribu senyuman yang disimpannya di tempat rahasia. Ada juga yang tidak menyukainya sebatas sapaan. Melihatnya duduk saling bersendau gurau disuitin teman-teman yang lain. Di luar orang-orang itu tidak pernah saling menyinggung yang selepas terjadi tadi. Mereka malah menepuk pundak dan bercerita yang lain. Biasa gaya ambillah. Ambillah, ambillah! Khas satu kelas. Aku kadang ketawa gara-gara istilah itu terkenal dari kelas kami.
                So, you what hehehe. Aku selalu ingin berteman. Har kita bersahabat. Rasanya beda kalau dia di kampus, di kelas, rumah atau berada di zona kuning. Memang. Tak ada salahnya sebagian orang memandang sinis. Sekalipun kita sama saja. Dia selalu bersikap seadanya, jaim kata gaulnya. Padahal banyak teman di sekelilingnya yang sama setnya dengan dia. Terkecuali yang heboh. Aku tak bisa mengelak. Butuh banyak energi untuk meredam emosi mereka yang tidak betul-betul berdiri bersama. Makanya aku suka mencolek dan ketawa-ketiwi di belakang. Tentunya dengan teman-teman yang akrab denganku. Seru saja. Dia pun orang begitu yang senang berkumpul dan jalan bersama. Hanya, hatinya yang tak sama dengan semuanya. Aku kira dia memiliki rahasia yang timbul tenggelam setiap kami sekelas menjadi saksi. Masalahnya orang-orang tahu dan dia tidak bisa berbohong tentang itu. Jadi, jawabannya selalu bahagia.
                Pernah aku mengajaknya berbincang suatu waktu. Dia suka mengikuti kegemaran kita. Yang kita senangi supaya katanya klop. Kalau aku baik-baik saja hehehe. Semua akan indah pada waktunya. Kalau bukan hari ini, besok atau lusa. Aku tahu sekarang maupun nanti akan berubah kecuali keinginan kita dari zaman nenek moyang. Dia juga menyadarinya saat apapun bisa berubah dan kemungkinan diubah. Ini hanya tentang timing yang belum tepat. Tentang aku, kamu, dia dan mereka kalau lirik sebuah lagu. Keep strong, guns.




                                                                                                                                     

Sabtu, 15 Agustus 2015

Ongah, janganlah kau menunggu saya!

                Pernah nggak mengalami kesemutan, agak gerah dan kegelisahan hanya karena satu hal yaitu menunggu. Menunggu terkadang menjadi hal yang paling tidak disukai oleh kebanyakan orang. Kesannya mungkin buang-buang waktu mending langsung saja let’s go. “Arrggghh aku paling tak suka nunggu.” Responnya sebagian teman biasanya begitu. Ada sih nyamannya kalau kita baik-baik saja menunggu. Waiting to someone, sample. Atau sekedar menunggu teman untuk mengunjungi suatu tempat. Adakalanya kita menunggu, wajar. Pengalamanku selalu ditunggu peace;) Kebiasaan mungkin sedari dulu eh gaya. Ya, aku suka menunggu tapi dari semilyaran orang di bumi permai ini aku sering ditunggu (lebay). Menunggu itu sebenarnya membosankan tapi petik baiknya saja kalau kita berada dalam penantian. Anggap saja menggenapkan waktu diselingi memperbaiki kehidupan.

                Kalau kita menunggu berarti ada secercah harapan pada orang tersebut. Jadi orang menunggu berharap dan memiliki keinginan. Tapi terkadang juga menunggu disebabkan kita merasa sekawan dengan orang yang ditunggu. Makanya meskipun tidak suka tetap kita lakukan. Tak apa-apa  menunggu toh yang tahu keinginan kita adalah kita sendiri. Kalau apa yang kita mau ada sekarang jangan menantinya di masa depan. Kalau ada di masa lalu cari yang lebih baik di masa kini. Dunia ibarat sebuah toko yang menyediakan kebutuhan hidup kita. Dalam bukunya Anis Malik, Berdoa Ada Seninya, kehidupan seperti kita melewati sebuah gerbong dan sampai ke gerbong selanjutnya. Gerbong terakhir saat kita masuk di liang lahat. Semuanya berproses sampai menemukan ujungnya. Kalau dikatakan puas, manusia tidak ada puasnya. Kita hanya memiliki jeda yang disebut lelah. Kalau sampai di titik itu kita berhenti mungkin sudah waktunya. 

                Ini untuk konsumsi pribadi sebenarnya aku tidak menyenangi menunggu. Aku hanya suka. Akibatnya mungkin karena aku paling sering ditunggu hehehe. Pengalamannya begini, ada seorang teman yang akrab denganku saat masih kuliah. Kebiasaannya menunggu gara-gara aku tidak bisa cepat prepare. Makanya dia jatuhnya marah kalau aku kelamaan. Sedikit bercanda juga ah biasa. “Aduh kamu tuh telat terus. Paling dekat kosnya di kampus tapi paling terlambat datang.” Aku paling ingat komentar jadulnya yang buat terkenang. Kalau mau diingat orang-orang aku memang terkenal terlambat. Sedikit bercanda kalau mengingat hal itu. Kebiasaan buruk seharusnya diperbaiki bukan dirawat sih. Menunggu bagiku baik-baik saja selama kita bisa menyenanginya. Kalau kita merasa senang dan tidak terbebani aku rasa apapun akan terasa mudah. Sekalipun itu bukan menunggu. Tak perlu melirik orang yang mengernyit kalau menunggu. Kita jalan saja selama hati merasa nyaman. Bukankah hati kita yang menentukan jalan yang ingin kita tempuh?

                Ada juga orang yang ingin kecepatan kalau memiliki suatu keinginan. Sebenarnya menunggu di sini bukan lagi hal yang diluangkan. Seperti waktu yang terus berubah detiknya tek tek tek. Kita tidak bisa menghalaunya sehingga tidak ada kata menunggu. Apa sih yang tidak bisa ditunggui. Keinginan kita. Aku senang saja di mana-mana. Yeah, everything >.^ anywhere home us. Kalau orang sudah merasa miliknya tak ada lagi yang harus dia usahakan. Selebihnya, kita aruskan di sungai yang bermuara ke laut aduh bahasamu hihihi. Benar kan, jodoh itu aturan Tuhan yang dinahkodai oleh manusia. Seperti sebuah kalimat sederhana, kita yang berdoa Tuhan yang menentukan. Begitu pun dengan menunggu.