Kamis, 05 Juni 2014


Pelangi Seusai Hujan


         Dari sekian banyak suasana mungkin aku paling akrab dengan keheningan. Kemana-mana suka sendiri. Ya, karena aku memang suka sendiri. Bukannya suka kesunyian apalagi kesepian. Kesepian bisa membuat orang bersedih, meratapi keadaan bahkan menangis semalaman. Kesepian jarang membuat kita merasa senang. Ach.. aku pun seringkali dihinggapi oleh rasa itu. Membuatku susah bernafas namun anehnya aku tetap menikmatinya. Aku hanya suka dengan suasana hening yang tenang, damai dan tidak ribut. Aku memiliki dua orang teman yang sering menemaniku kemana-mana. Seorang adalah teman kelasku dan seorang lagi dari kelas lain tapi masih seangkatan denganku. Kami semua mahasiswa Pend. Matematika di UIN Alauddin Makassar. Kampus besar nan luas yang berada di Samata. Ingatanku masih segar saat hari pertama kuliah perdana di kampus hijau itu. Belum memiliki kendaraan pribadi dan sangat mungkin dibodoh-bodohi oleh senior, hahaha. Dari segi penampilan dari dulu sampai sekarang tidak banyak yang berubah. Aku selalu tampil seadanya yang penting rapi dan enak dipandang. Pete-pete kampus yang memiliki rute dari kampus 1 yang sering mengantarku menuntut ilmu. Sesering apapun naik pete-pete namun aku tetap merasa pusing. Apalagi tahun -tahun pertama perkuliahan. 

          Saat terbiasa bersama teman-teman maka saat sendiri akan terasa susah. Lagipula tidak banyak orang yang suka menyepi kecuali yang memang menyenanginya. Aku, hahaha. Setiap orang berbeda lach. Tapi ada saatnya juga aku merasa tidak suka sendiri. Biasanya aku pergi berkunjung ke kost teman. Bercengkrama di sana, makan siang sama-sama hingga menginap. Suatu hari aku tidak bisa melakukan itu karena teman-temanku sibuk atau tidak ada di kost. Maka aku pun menyibukkan diri sendiri supaya tidak bosan. Kesepian selalu bisa kunikmati dengan berbagai aktifitas yang bisa menghiasi hari. Aku merasakannya begitu bahwa kesepian selalu bisa untuk dinikmati. Ternyata tidak selalu begitu. Ada kesepian yang bahkan tidak bisa dinikmati tapi sering disabari. Kesepian yang sebenarnya mengikat hati. Membuat sering merindu, menggalau, kadang memberontak dan kadang menyurut seperti pasrahnya air laut terhadap gravitasi. Saat jatuh cinta maka orang-orang yang menyenangi kesunyian tidak bisa menikmati suasana yang disenanginya. Sekedar membuat-buat alasan bahwa hari ini menggembirakan, menahan perasaan agar semua baik-baik saja, hura-hura, and have fun. Di dalam hati kesepian seakan belati yang menggores, menyayat atau menusuk. Namun betapa pun itu selalu bertahan seperti tegarnya mentari yang tak lelah menjalankan titah Tuhan. Begitulah posisi orang yang tidak bersungguh-sungguh yaitu berada di luar garis.

Sabtu, 18 Januari 2014


Sebelum memulai tulisan ini, aku tak bermaksud untuk mengaitkan dengan apapun. Jangan berprasangka yach>.^


Perempuan


                Beberapa hari yang lalu maulid Nabi>.^ shalawat ke atas Nabi, Allahumma Salli ala Sayyidina Muhammad wa ala Ali Sayyidina Muhammad. Tak terbayangkan apa yang dilakukan Rasulullah untuk memperbaiki akhlak di muka bumi. Lalu seperti apa akhlak Rasulullah sendiri, Rasulullah adalah al-quran berjalan. Dalam buku karya Michael H. Hart, the 100 yang memuat 100 tokoh yang menurutnya memiliki pengaruh paling besar dan paling kuat dalam sejarah maka Nabi Muhammad SAW berada pada urutan teratas. Pada suatu riwayat yang menceritakan Rasulullah didatangi oleh seseorang yang bertanya tentang kepada siapa harus kita berbakti pertama kali. Kemudian dijawab ibu, ibu, ibu, setelah itu baru ayah. Betapa mulianya seorang ibu sampai disebut sebanyak tiga kali oleh Rasulullah, sedangkan ayah hanya satu kali. Ibu adalah perempuan, artinya kaum perempuan memiliki kemuliaan dibanding kaum laki-laki.
          Ada seseorang yang rupa dan akhlaknya seperti Nabi Muhammad SAW. Benar, dia pun perempuan yang tak lain adalah Fatimah Az Zahra. Perempuan lagi haha>.^ Surga ada di bawah telapak kaki ibu sehingga sangat pantas anak berbakti kepada orang tuanya, terutama ibunya. Ibu bukan lelaki, tuh kan perempuan lagi haha>.^ Sekarang sudah berlaku kesetaraan gender sehingga laki-laki dan perempuan disamakan. Tapi pernah suatu masa, kaum perempuan dianggap sangat rendah. Perempuan dikubur hidup-hidup pada masa jahiliyah karena kebencian mereka kepada perempuan. Perempuan yang  tidak meninggal setelah dikubur akan hidup menderita karena dihinakan, ditindas, didzalimi dan segala perbuatan jahiliyah lainnya yang membuat hidup perempuan menjadi kelam. Kemudian Islam mengangkat kedudukan perempuan menjadi mulia dan terhormat.
          Hey, laki-laki perhatikanlah perempuan>.^ perempuan hanya lemah dari segi fisik tapi mereka makhluk yang tegar. Perempuan mengurus rumah tangga selain berkarir dalam pekerjaan mereka. Perjuangan mereka sulit tapi kaum perempuan tidak pantang menyerah. Bahkan, laki-laki pun dilahirkan oleh seorang perempuan. Sehingga ridha Allah ada pada ridha orang tua. Maka sudah seharusnya kita menghormati orang tua karena tanpa mereka kita tidak akan bisa seperti sekarang. Tanpa ibu, tiadalah kita>.^ Eh, ibu adalah perempuan. Tuh kan, perempuan lagi._. haha>.^ Ok kalau begitu, tanpa ayah aku tidak akan bisa menulis untaian kata ini dan bila ada yang berkenan maka dia tidak akan bisa membaca tulisanku. Yuk ucapkan bersama-sama dengan hati yang gembira, ayah ibu semoga segala kebaikan selalu menyertaimu>.^