Selasa, 14 Juli 2015




Sejumput
 

Aroma rumah sakit hal yang bukannya tidak kusukai namun tidak pernah menjadi apa yang kusuka. Karena agak memusingkan saat diterbangkan angin dan terhirup oleh hidung. Rasanya aku tidak bisa meneguk. Semua orang pasti pernah mengunjungi rumah sakit meskipun hanya sekali. Entah pergi menjenguk, menemani seseorang untuk berobat atau dia sendiri yang sakit. Sore itu aku datang di salah satu rumah sakit yang berada di kota Makassar. Teringat di masa kecil dulu rumah sakit adalah tempat yang paling sering kudatangi karena aku sering jatuh sakit. Aku mengunjungi seorang anak yang menderita tumor mulut. Sebenarnya kabar tentang sakitnya anak ini juga kubaca dari sosial media. Aku tidak begitu mengenalnya. Yang kutahu bahwa dia dirawat di ICU karena menderita penyakit tumor mulut ganas. Aku tidak tahu kenapa kakiku ingin melangkah ke sana. Itu hanya kepedulian yang semestinya dilakukan oleh kita.

Berbagai komunitas ikut membantu meringankan beban. Mereka menyebarkan informasi tentang penyakit anak ini melalui akun twitter maupun blog. Terus terang aku prihatin pada keadaannya. Aku melihat fotonya yang disebar melalui akun twitter. Rasanya aku ingin curhat habis-habisan dengan sahabatku. Biasanya aku menceritakan apapun pada sahabatku sampai hal yang sepele. Begitulah sahabat sebagai pendengar yang baik. Aku melihat wajah teduh di sana. Dia duduk di suatu tempat yang disediakan oleh rumah sakit bagi keluarga pasien yang dirawat. Beberapa orang juga duduk di bale-bale sambil bercerita. Aku melangkahkan kaki ke tempat itu dan menyapa mereka. Orang itu adalah ibunda Ovan. Pemilik wajah teduh yang suaranya lirih kalau berbicara. Dia sedang berbincang-bincang dengan pengunjung Ovan. Tahukah apa yang ada di benakku. Aku hanya susah mengutarakannya entah karena mendengar pembicaraan mereka atau sedang prihatin dengan kondisi Ovan. Penyakit sekarang sudah bermacam-macam mulai dari yang menyerang ujung rambut sampai kuku kaki. Berbagai macam obat sampai operasi pun dikembangkan dari masa ke masa. Aku menyebarkan pandangan, kulihat banyak sosok berjas putih berkalung stetoskop atau mengenggam stetoskop sedang berlalu lalang. Tak lama kemudian, aku masuk di ruang ICU.

Dia tidur terlentang di atas tempat tidur sambil mendekap boneka spiderman. Aku mendapatinya sedang diajak cerita oleh salah-satu pengunjungnya saat memasuki kamarnya. Seorang perempuan duduk di sisinya sesekali mengusap rambutnya. Dia banyak bicara saat ditanya dan banyak bertanya menghentikan kesunyian. Aku senang memperhatikannya. Saat sakit tapi masih bersemangat. Perempuan di sampingnya dengan sabar menemaninya. Aku juga mengajaknya bercerita. Dia haus dan mau minum susu. Perempuan itu menuturkan kalau pasien menggemaskan ini suka minum susu. Susu coklat dalam kemasan. Kalau capek diajak bicara oleh pengunjungnya dia akan memberi isyarat ingin minum. Aku memperhatikan dari tadi dan tersenyum simpul. Di dalam hati aku merasa senang ke sini dan tenang melihat pasien. Aku menyukai tingkahnya sepertinya dia sudah mulai membaik. Pengunjungnya memberi air putih yang disedotkan ke mulutnya dengan pipet. Tapi dia menolak memalingkan wajahnya. Perempuan imut itu langsung tahu kalau dia mau minum susu.
“Hey, mau minum susu dek?”ucapnya hati-hati sambil menyisihkan helaian rambut Ovan
“Kak, adik Ovan suka minum susu?”tanyaku
“Iya dia sangat suka.”
“Och.”
“Bagaimana keadaannya?”tanyaku lagi
Pengunjung itu menjelaskan keadaannya padaku. Aku hanya mengangguk sesekali. Sepertinya pengunjung ini salah seorang simpatisan yang mendengar kabar sakitnya Ovan. Ya aku akui kondisi anak itu memprihatinkan. Aku merasa sedih membaca kabar tentangnya dan memperhatikan foto-fotonya. Makanya aku datang menjenguknya. Selain itu, aku lama tidak menginjak rumah sakit. Biasanya kalau ke rumah sakit ada hal yang bisa kita temukan sekalipun bukan yang namanya hura-hura.Orang itu menangis. Sejujurnya aku semakin sedih melihat peristiwa ini. Merasakannya, menyaksikan langsung dan ikut berbaur bersama. Hanya aku tidak bisa menangis kejer. Aku mengusap-usap kaki Ovan meskipun aku tidak suka memegang orang sakit. Doa kupanjatkan dalam lirih sambil memandangnya lekat. Terkadang keadaan seperti ini adalah waktunya orang bersedih, menitikkan air mata, menyebut doa dan menangis. Tidak akan sama kalau aku tadi pergi ke mall atau pasar sentral. Mungkin itu bedanya kalau kita berkunjung ke tempat-tempat yang tertumpahkan kesedihan di situ. Suasananya menjadi berubah dan membuat kita ikut larut di dalamnya. Ya ini hanya kepedulian yang seharusnya dilakukan oleh kita. Kita sebagai manusia.

            Setelah menjenguknya, di luar ruang ICU aku melihat di tempat keluarga pasien mamanya Ovan masih ada di sana. Dia masih berbincang-bincang dengan beberapa orang yang tadi kulihat sebelum masuk ke ruang ICU. Aku berpikir mungkin mereka sama halnya pengunjung perempuan tadi. Memang ada berbagai komunitas dan para simpatisan yang ikut membantu pengobatan adik yang menggugah hati ini. Penyakitnya cukup serius dan dia masih kecil sehingga banyak orang yang ikut tergerak mengulurkan tangan. Termasuk aku yang datang melihat kondisinya langsung di rumah sakit. Aku suka terhubung dengan jejaring sosial. Fb-an, twitter-an, buka google, you tube atau apa yang bisa dilakukan di kotak kecil jendela dunia tersebut. Saat membuka akun twitter aku melihat suatu postingan lalu kubaca. Aku tahu kabarnya lewat situ.

Waktu pertama kali aku menjenguk masih ditemani oleh sepupuku. Namun kedua kalinya aku datang sendiri. Aku ingin mengetahui perkembangan kondisinya. Sesampainya di sana, kami sempat berbicara di tempat yang disediakan untuk keluarga pasien. Aku, ibunda Ovan, bapak Ovan dan beberapa pengunjung. Kami membicarakan perkembangan kesehatan anak itu. Kalau kudengar-dengar sudah ada perubahan dari terakhir kali aku ke sini. Aku merasa senang sore itu. Sama seperti  pertama aku datang menjenguk. Mendengar keadaan pasien yang mengalami perubahan apalagi perubahannya baik rasanya menyenangkan. Meskipun sedikit demi sedikit, tidak sekaligus.

            Tak lama kemudian, waktu berlalu. Hari berganti hari setelah peristiwa itu. Aku mendengar kabar kalau Ovan meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Padahal baru kemarin aku datang menjenguk membawakannya susu coklat. Dia memiliki persediaan susu yang banyak yang juga dibawakan oleh pengunjung tersayangnya. Rasanya baru kemarin aku shalat di mesjid dengan ibundanya. Bercengkrama dengan keluarganya dan simpatisan yang lain. Kami masih bisa tertawa lega kala itu. Berkata jangan-jangan sembari tersenyum penuh harap. Padahal baru kemarin aku merasa senang seandainya bersama mereka. Beginilah selalu karena Tuhan memiliki rencana untuk kita sebagai pemeran utama setiap diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar