Pernah
dengar strata gak. Dalam suatu kehidupan bermasyarakat ada tingkatan-tingkatan
yang membedakan kita. Tidaklah sama antara seorang pejabat dan seorang petani.
Biasanya juga merambat tak ubahnya pohon menjalar di hamparan tanah sampai
anak, cucu dan cicit-cicitnya. Selalu begitu dari masa ke masa dan satu
generasi ke generasi berikutnya mempertahankan paham masing-masing. Tak ada
yang ingin goyah dari tempatnya. Kita hanya mengabaikan yang menurut orang lain
betul dan menurut kita salah. Itu selalu kuat meskipun menerima begitu banyak
bantahan yang bernada tanggapan. Setiap orang memiliki pahamnya tersendiri yang
tak mungkin sama persis dengan yang lainnya. Mereka hanya mencoba berbaur
menyatukannya karena menganggap berada di satu tempat. Kita memiliki tujuan
yang berbeda di tempat yang sama. Anggap saja itu bumi di mana kaki berpijak.
Maka perbedaan tidak ada lagi. Kita semua sama. Sama-sama ciptaan Tuhan yang
Maha Kuasa. Namun saat kita berdiri dan melihat orang lain duduk itu tidak
selalu sama. Tahukah Inggris. Aku tidak tahu (dalam hati) hihihi. Aku bahkan tidak pernah ke sana, negeri para
raja. Negara yang memiliki penduduk yang katanya berbudi luhur. Ya, orang
Inggris adalah jiwa turun temurungnya tangan putri Lady Diana. Di sana juga ada
jembatan yang terkenal di dunia.
Aku
sedikit ketawa berbicara tentang jembatan. Di dekat rumahku ada jembatan yang
merupakan mulut menuju ke kota Benteng. Kalau sudah melewati jembatan itu maka
kita berada di kota Benteng, ibukota Kepulauan Selayar. Suatu kabupaten yang
terletak di ujung Sulawesi Selatan. Waktu masih kuliah dulu banyak teman-teman
dari daerah lain yang bertanya-tanya tentang pulau Selayar. Aku dibuat kikuk
menjawabnya. Selayar itu masih termasuk
Sul-Sel terletak di ujung Sulawesi paling selatan tapi tidak menyatu dengan
pulau Sulawesi sendiri seperti daerah Bulukumba, Bantaeng, Jeneponto dan
lainnya. Terus ditanya lagi. Selayar
itu pulau yang berdiri sendiri dan tidak menyatu dengan pulau Sulawesi.
Kujawab lagi. Namanya saja PulauSelayar
di sana ada atol yang merupakan terumbu karang terbesar ketiga di dunia.
Tanya jawab pun terjadi. Di sana ada
kehidupan karena bisanya ada orang yang tinggal di pulau kecil dan terpisah
dengan pulau ibukota. Aku pun menjawab. Aku
anak pulau hihihi. Aku geli kalau ada yang menanyakan Selayar masih
termasuk Indonesia. Negeri ibu pertiwi.
Indonesia
adalah negara yang terus berkembang di jalur khatulistiwa. Makanya orang
Indonesia menunggu musim durian, mengalami kekeringan sumur atau sawah dan
menarik ulur payungnya di musim penghujan. Di negeri ini juga banyak tempat
wisata dan cagar budaya yang telah dikenal sejak dahulu kala. Aku bahkan tidak
mengunjungi berbagai tempat untuk menyaksikan kekayaan alam. Indonesia memiliki
objek wisata, budidaya alam dan pusat kebudayaan daripada negara-negara lain di
penjuru dunia. Namun bagaimanapun itu kita selalu condong pada negeri luar yang
kenyataannya sudah sangat modern. Buktinya sampai kini, orang Indonesia masih
menggeluti ketradisionalan. Tradisional seperti warisan nenek moyang yang
kesannya asri dan langsung dari alam. Tak pernah terpisah dengan masyarakat
apalagi mereka yang hidupnya di daerah Jawa. Indonesia masih wong deso hihihi.
Aku suka yang berasal dari alam seperti hati orang-orang Indonesia. Tapi di
negara barat, mereka mengenal metropolitan. Seperti Inggris.
Nah,
kembali pada jembatan. Jembatan mulu nih hihihi. Lanjut saja pada alurnya. Aku
hanya tahu jembatan London. Tower bridge, jembatan menara. Disebut jembatan
menara karena jembatan itu ditopang oleh dua buah menara di sisi kanan dan
kirinya. Jembatan menara ini atau tower bridge adalah icon negara Inggris.
Makanya hanya sebatas jembatan yang aku torehkan. Di sana pasti ada
tempat-tempat lain yang menjadi pusat peradaban. Bukankah itu yang membuat para
wisatawan meluncur ke kota berbahasa Internasional itu di waktu liburan. Mereka
memiliki berbagai tempat yang merupakan pusat peradaban baik di negara itu
sendiri atau dunia. Karena peradaban. Tapi pasti ada alasan lain; pergi
liburan, travelling dan shopping misalnya. Memang selalu begitu tujuannya dari
sedikit. Untuk happy, mencari udara luar negeri dan melepas penat. Pokoknya
bersenang-senang. Aku pun demikian. London, negeri para raja katanya. Indonesia
negeriku, gema ri palo ji nawi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar