Selasa, 28 Juli 2015

Ongah, kau pernah ke Inggris

            Pernah dengar strata gak. Dalam suatu kehidupan bermasyarakat ada tingkatan-tingkatan yang membedakan kita. Tidaklah sama antara seorang pejabat dan seorang petani. Biasanya juga merambat tak ubahnya pohon menjalar di hamparan tanah sampai anak, cucu dan cicit-cicitnya. Selalu begitu dari masa ke masa dan satu generasi ke generasi berikutnya mempertahankan paham masing-masing. Tak ada yang ingin goyah dari tempatnya. Kita hanya mengabaikan yang menurut orang lain betul dan menurut kita salah. Itu selalu kuat meskipun menerima begitu banyak bantahan yang bernada tanggapan. Setiap orang memiliki pahamnya tersendiri yang tak mungkin sama persis dengan yang lainnya. Mereka hanya mencoba berbaur menyatukannya karena menganggap berada di satu tempat. Kita memiliki tujuan yang berbeda di tempat yang sama. Anggap saja itu bumi di mana kaki berpijak. Maka perbedaan tidak ada lagi. Kita semua sama. Sama-sama ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa. Namun saat kita berdiri dan melihat orang lain duduk itu tidak selalu sama. Tahukah Inggris. Aku tidak tahu (dalam hati) hihihi. Aku bahkan tidak pernah ke sana, negeri para raja. Negara yang memiliki penduduk yang katanya berbudi luhur. Ya, orang Inggris adalah jiwa turun temurungnya tangan putri Lady Diana. Di sana juga ada jembatan yang terkenal di dunia.

                Aku sedikit ketawa berbicara tentang jembatan. Di dekat rumahku ada jembatan yang merupakan mulut menuju ke kota Benteng. Kalau sudah melewati jembatan itu maka kita berada di kota Benteng, ibukota Kepulauan Selayar. Suatu kabupaten yang terletak di ujung Sulawesi Selatan. Waktu masih kuliah dulu banyak teman-teman dari daerah lain yang bertanya-tanya tentang pulau Selayar. Aku dibuat kikuk menjawabnya. Selayar itu masih termasuk Sul-Sel terletak di ujung Sulawesi paling selatan tapi tidak menyatu dengan pulau Sulawesi sendiri seperti daerah Bulukumba, Bantaeng, Jeneponto dan lainnya. Terus ditanya lagi. Selayar itu pulau yang berdiri sendiri dan tidak menyatu dengan pulau Sulawesi. Kujawab lagi. Namanya saja PulauSelayar di sana ada atol yang merupakan terumbu karang terbesar ketiga di dunia. Tanya jawab pun terjadi. Di sana ada kehidupan karena bisanya ada orang yang tinggal di pulau kecil dan terpisah dengan pulau ibukota. Aku pun menjawab. Aku anak pulau hihihi. Aku geli kalau ada yang menanyakan Selayar masih termasuk Indonesia. Negeri ibu pertiwi.

                Indonesia adalah negara yang terus berkembang di jalur khatulistiwa. Makanya orang Indonesia menunggu musim durian, mengalami kekeringan sumur atau sawah dan menarik ulur payungnya di musim penghujan. Di negeri ini juga banyak tempat wisata dan cagar budaya yang telah dikenal sejak dahulu kala. Aku bahkan tidak mengunjungi berbagai tempat untuk menyaksikan kekayaan alam. Indonesia memiliki objek wisata, budidaya alam dan pusat kebudayaan daripada negara-negara lain di penjuru dunia. Namun bagaimanapun itu kita selalu condong pada negeri luar yang kenyataannya sudah sangat modern. Buktinya sampai kini, orang Indonesia masih menggeluti ketradisionalan. Tradisional seperti warisan nenek moyang yang kesannya asri dan langsung dari alam. Tak pernah terpisah dengan masyarakat apalagi mereka yang hidupnya di daerah Jawa. Indonesia masih wong deso hihihi. Aku suka yang berasal dari alam seperti hati orang-orang Indonesia. Tapi di negara barat, mereka mengenal metropolitan. Seperti Inggris.

                Nah, kembali pada jembatan. Jembatan mulu nih hihihi. Lanjut saja pada alurnya. Aku hanya tahu jembatan London. Tower bridge, jembatan menara. Disebut jembatan menara karena jembatan itu ditopang oleh dua buah menara di sisi kanan dan kirinya. Jembatan menara ini atau tower bridge adalah icon negara Inggris. Makanya hanya sebatas jembatan yang aku torehkan. Di sana pasti ada tempat-tempat lain yang menjadi pusat peradaban. Bukankah itu yang membuat para wisatawan meluncur ke kota berbahasa Internasional itu di waktu liburan. Mereka memiliki berbagai tempat yang merupakan pusat peradaban baik di negara itu sendiri atau dunia. Karena peradaban. Tapi pasti ada alasan lain; pergi liburan, travelling dan shopping misalnya. Memang selalu begitu tujuannya dari sedikit. Untuk happy, mencari udara luar negeri dan melepas penat. Pokoknya bersenang-senang. Aku pun demikian. London, negeri para raja katanya. Indonesia negeriku, gema ri palo ji nawi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar